MASYARAKAT PERDESAAN DAN MASYARAKAT PERKOTAAN

 

A.  MASYARAKAT PERKOTAAN, ASPEK-ASPEK POSITIF DAN NEGATIF

 

1.     Pengertian Masyarakat

Masyarakat adalah sekelompok manusia yang terjalin erat karena sistem tertentu, tradisi tertentu, konvensi dan hukum tertentu yang sama, serta mengarah pada kehidupan kolektif.[1] Sistem dalam masyarakat saling berhubungan antara satu manusia dengan manusia lainnya yang membentuk suatu kesatuan.[2] Masyarakat berfungsi sebagai khalifah dimuka bumi.[3] Masyarakat terbagi menjadi dua golongan utama, yakni penguasa atau pengeksploitasi dan yang dikuasai atau yang dieksploitasi.[4] Kepribadian masyarakat terbentuk melalui penggabungan individu-individu dan aksi-reaksi budaya mereka.

2.     Syarat Mayarakat

Adapun beberapa syarat untuk menjadi masyarakat yaitu :

1.     Harus ada pengumpulan manusia, dan harus banyak, bukan pengumpulan binatang 

2.     telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama disuatu daerah tertentu 

3.     adanya aturan-aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju pada kepentingan dan tujuan bersama. 

 

Sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudia berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemasyarakatan.

Berdasarkan mata pencaharian.para pakar ilmu sosial membagi: masyarakat pemburu, masyarakat pastoral nomadis, masyarakat bercocoktanam, dan masyarakat agrikultural intensif, yang juga disebut masyarakat peradaban. Sebagian pakar menganggap masyarakat industri dan pasca-industri sebagai kelompok masyarakat yang terpisah dari masyarakat agrikultural tradisional.

Berdasarkan struktur politiknya masyarakat dibagi:berdasarkan urutan kompleksitas dan besar, terdapat masyarakat band, suku, chiefdom, dan masyarakat negara

3.     Pengertian Masyarakat Perkotaan

Masyarakat perkotaan merupakan masyarakat urban dari berbagai asal/desa yang bersifat heterogen dan majemuk karen terdiri dari berbagai jenis pekerjaan/keahlian dan datang dari berbagai ras, etnis, dan agama.Mereka datang ke kota dengan berbagai kepentingan dan melihat kota sebagai tempat yang memiliki stimulus (rangsangan) untuk mewujudkan keinginan. Maka tidaklah aneh apabila kehidupan di kota diwarnai oleh sikap yang individualistis karena mereka memiliki kepentingan yang beragam. 

 

4.     Tipe – Tipe Masyarakat dalam Menyikapi Perubahan 

a)   Masyarakat Terbuka

Dalam menerima perubahan, pada masyarakat terbuka dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:

1. Masyarakat yang Menerima Perubahan dengan seleksi

Dalam tipe masyarakat yang demikian, perubahan yang ada disikapi dengan sikap selektif. Artinya perubahan yang membawa dampak positif bagi nilai-nilai di masyarakat tersebut akan diterima dengan tangan terbuka, sebaliknya perubahan yang dapat menimbulkan rusaknya norma-norma sosial yang telah ada ditolak keberadaannya. Masyarakat seperti ini tergolong Masyarakat Modern.

 

Ciri - Ciri Masyarakat Modern :

 

-          Sikap hidup yang dapat menerima hal-hal baru dan terbuka untuk perubahan

-          Mempunyai keberanian untuk mengemukakan pendapat

-          Lebih mengutamakan masa kini, sangat menghargai waktu

-          Memiliki perencanaan dan pengorganisasian

-          Yakin pada IPTEK dari pada hal-hal gaib (mistik)

-          Penuh perhitungan dan percaya diri

-          Menghargai harkat hidup orang lain

-          Memiliki sikap keadilan dan pemerataan

b). Masyarakat yang Menerima Perubahan Tanpa Seleksi

Semua unsur-unsur yang masuk dalam suatu masyarakat dianggap baik dan lebih maju, sehingga perlu diikuti, terutama unsur-unsur budaya dari dunia barat. Hal ini karena perkembagan ilmu dan teknologi mereka demikian maju dan cepat perkembangannya.

Keadaan ini membuat sebagian masyarakat lupa bahwa tidak semua yang datang dari barat merupakan hal-hal yang modern. Proses menerima semua unsur-unsur barat tanpa seleksi disebut WESTERNISASI 

Semua yang datang dari barat tidak dapat digolongkan modern. Pergaulan bebas, seks bebas, merupakan kerusakan moral dan tidak sesuai dengan nilai dan norma bangsa Indonesia.

Modern tidak sama denga westernisasi. Hal ini berarti tidak semua yang datang dari Barat itu modern.
c). Masyarakat Tertutup

Masyarakat tertutup sulit menerima perubahan. Mereka bersifat bahwa perubahan akan menyebabkan hilangnya keaslian budayanya. Mereka menutup diri akan perubahan, adakalanya mereka menerima perubahan namun sifatnya terbatas bahkan ada yang tak mau menerimanya sama sekali. Mereka tak mau bergaul dengan masyarakat luar.

 

Ciri – Ciri Masyarakat Tertutup :

 

-          Tak mau kehilangan budaya aslinya

-          Perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat

-          Memiliki sifat etnosentrisme yang tinggi

-          Terlalu kuat memegang tradisi dan ideologi kelompok

-          Mobilitas sosial rendah

 

5.   Ciri-ciri Masyarakat Kota

a)     Kehidupan keagamaan berkurang dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.

b)    Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.

c)     Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.

d)    Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa.

e)     Interaksi yang lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi.

f)     Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.

g)    Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh.

6.     Perbedaan Antara Kota dan Desa

Adapun beberapa Perbedaan Kota dan Desa yaitun:

a)     jumlah dan kepadatan penduduk

b)    lingkungan hidup

c)     mata pencaharian

d)    corak kehidupan sosial

e)     stratifikasi sosial

f)     mobilitas sosial

g)    pola interaksi sosial

h)    solidaritas sosial

i)      kedudukan dalam hierarki administrasi nasional

 

 

 

B.    HUBUNGAN DESA DAN KOTA

Hubungan pedesaan-perkotaan. Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komonitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan bahan pangan seperti beras sayur mayur , daging dan ikan.

Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi bagi jenis jenis pekerjaan tertentu dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam proyek proyek perumahan. Proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja pekerja musiman. Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan dibidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.

“Interface”, dapat diartikan adanya kawasan perkotaan yang tumpang-tindih dengan kawasan perdesaan, nampaknya persoalan tersebut sederhana, bukankah telah ada alat transportasi, pelayanan kesehatan, fasilitas pendidikan, pasar, dan rumah makan dan lain sebagainya, yang mempertemukan kebutuhan serta sifat kedesaan dan kekotaan.

Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.

Secara teoristik, kota merubah atau paling mempengaruhi desa melalui beberapa cara, seperti:

·        Ekspansi kota ke desa, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran dan kecepatan yang beraneka ragam

·        Invasi kota , pembangunan kota baru seperti misalnya Batam dan banyak kota baru sekitar Jakarta merubah perdesaan menjadi perkotaan. Sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti dengan perkotaan

·        Penetrasi kota ke desa, masuknya produk, prilaku dan nilai kekotaan ke desa. Proses ini yang sesungguhnya banyak terjadi

·        Ko-operasi kota-desa, pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan ke kota. Dari keempat hubungan desa-kota tersebut kesemuanya diprakarsai pihak dan orang kota. Proses sebaliknya hampir tidak pernah terjadi, oleh karena itulah berbagai permasalahan dan gagasan yang dikembangkan pada umumnya dikaitkan dalam kehidupan dunia yang memang akan mengkota.

 

C.    ASPEK POSITIF DAN NEGATIF

 

1.     Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola kehidupan sosial , ekonomi , kebudayaan dan politik . Kesemuanya ini akan dicerminkan dalam komponen – komponen yang memebentuk struktur kota tersebut . Jumlah dan kualitas komponen suatu kota sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pertumbuhan kota tersebut.
Secara umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan , seyogyanya mengandung 5 unsur yang meliputi :

–          Wisma : Untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya.
–          Karya : Untuk penyediaan lapangan kerja.
–          Marga : Untuk pengembangan jaringan jalan dan telekomunikasi.
–          Suka : Untuk fasilitas hiburan, rekreasi, kebudayaan, dan kesenian.
–          Penyempurnaan : Untuk fasilitas keagamaan, perkuburan, pendidikan, dan utilitas umum.
Untuk itu semua , maka fungsi dan tugas aparatur pemerintah kota harus ditingkatkan :
a)    Aparatur kota harus dapat menangani berbagai masalah yang timbul di kota . Untuk itu maka pengetahuan tentang administrasi kota dan perencanaan kota harus dimilikinya .
b)    Kelancaran dalam pelaksanaan pembangunan dan pengaturan tata kota harus dikerjakan dengan cepat dan tepat , agar tidak disusul dengan masalah lainnya.
c)    Masalah keamanan kota harus dapat ditangani dengan baik sebab kalau tidak , maka kegelisahan penduduk akan menimbulkan masalah baru.
d)    Dalam rangka pemekaran kota , harus ditingkatkan kerjasama yang baik antara para pemimpin di kota dengan para pemimpin di tingkat kabupaten tetapi juga dapat bermanfaat bagi wilayah kabupaten dan sekitarnya.

2.     Unsur Pembentuk Lingkungan Perkotaan

Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola-pola kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan dan politik. Kesemuanya akan tercermin dalam komponen-komponen yang membentuk stuktur kota tersebut. Menurut Koes Hadinoto (1970) Secara umum lingkungan perkotaan setidaknya mengandung 5 unsur yang meliputi :

1. Wisma

Wisma merupakan rumah tinggal untuk masyarakat di perkotaan. Wisma dipergunakan sebagai tempat berlindung terhadap alam dan cuaca, serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan sosial dalam keluarga. Unsur wisma dalam suatu kawasan dapat memiliki peran sebagai berikut:

  • dapat mengembangkan daerah perumahan penduduk yang sesuai dengan pertambahan kebutuhan penduduk untuk masa mendatang;
  • memperbaiki keadaan lingkungan perumahan yang telah ada agar dapat mencapai standar mutu kehidupan yang layak, dan memberikan nilai-nilai lingkungan yang aman dan menyenangkan.

2. Karya

Unsur karya dalam suatu perkotaan dapat mencakup ruang atau bangunan dimana bangunan tersebut memeiliki fungsi-fungsi sebagai lahan pekerjaan bagi masyarakat, contohnya: Kantor pemerintahan, Kantor swasta, Kantor pelayanan, Perdagangan, dll.

3. Marga

Marga merupakan ruang perkotaan yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dengan tempat lainnya di dalam kota, serta hubungan antara kota itu dengan kota lain atau daerah lainnya. Dengan kata lain unsur ini merupakan bagian lalu lintas atau sirkulasi yang terdapat pada suatu wilayah perkotaan. Unsur marga dalam perkotaan dapat mencakup antara lain jalan utama, gang, dan pedestrian/trotoar.

4. Suka

Suka merupakan bagian dari ruang perkotaan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan fasilitas hiburan, rekreasi, pertamanan, kebudayaan dan kesenian. Unsur ini merupakan aspek penting yang akan mempengaruhi kualitas hidup masyarakat khususnya masyarakat perkotaan seperti kualitas kesehatan dan psikologis. Unsur suka dalam perkotaan dapat berupa alun alun, lapangan, taman bermain, ruang terbuka hijau, art center, dll.

5. Penyempurna

Unsur Penyempurna memiliki sifat menyempurnakan atau meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan yang menjadi cakupannya. Unsur penyempurna pada perkotaan merupakan suatu unsur yang memiliki peran sebagai sarana sarana pelengkap pada perkotaan yang akan membuat kawasan tersebut memiliki kualitas lebih baik, secara umum unsur penyempurna perkotaan dapat berupa fasilitas pendidikan dan kesehatan, fasiltias keagamaan, perkuburan kota dan jaringan utilitas kota

3.     Fungsi Eksternal

Fungsi eksternal dari kota yakni seberapa jauh fungsi dan peran kota tersebut dalm kerangka wilayah dan daerah-daerah yang dilingkupi dan melingkupinya, baik secara regional maupun nasional.

Desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografis, social, ekonomi, politik dan kulural yng terdapat di suatu daerah dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbale balik dengan daerah lain.
Pola keruangan desa bersifat agraris yang sebagian atau seluruhnya terisolasi dari kota. Tempat kediaman penduduk mencerminkan tingkat penyesuaian penduduk terhadap lingkungan alam, seperti iklim, tanah, topografi, tata air, sumber alam, dan lain-lain. Tingkat penyesuaian penduduk desa terjhadap lingkungan alam bergantung factor ekonomi, social, pendidikan dan kebudayaan.

 

D.     MASYARAKAT PERDESAAN

1.     Pengertian Desa

Desa, atau udik, menurut definisi "universal", adalah sebuah aglomerasi permukiman di area perdesaan (rural). Di Indonesia, istilah desa adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia di bawah kecamatan, yang dipimpin oleh Kepala Desa. Sebuah desa merupakan kumpulan dari beberapa unit permukiman kecil yang disebut kampung (Banten, Jawa Barat) atau dusun (Yogyakarta) atau Banjar (Bali) atau jorong (Sumatra Barat). Kepala Desa dapat disebut dengan nama lain misalnya Kepala Kampung atau Petinggi di Kalimantan Timur, Klèbun di Madura, Pambakal di Kalimantan Selatan, dan Kuwu di Cirebon, Hukum Tua di Sulawesi Utara.

Sejak diberlakukannya otonomi daerah Istilah desa dapat disebut dengan nama lain, misalnya di Sumatra Barat disebut dengan istilah nagari, di Aceh dengan istilah gampong, di Papua dan Kutai Barat, Kalimantan Timur disebut dengan istilah kampung. Begitu pula segala istilah dan institusi di desa dapat disebut dengan nama lain sesuai dengan karakteristik adat istiadat desa tersebut. Hal ini merupakan salah satu pengakuan dan penghormatan Pemerintah terhadap asal usul dan adat istiadat setempat.

2.     Ciri-ciri Desa

a.     Geografis

Dari segi geografis, desa memiliki lahan yang luas serta banyak dimanfaatkan masyarakatnya untuk bercocok tanam.

Mata pencaharian dan kehiduapan mereka bergantung kepada alam di sekitarnya, sehingga mereka akan bekerja untuk menanam, berternak, dan lain sebagainya untuk meningkatkan perekonomian di desa tersebut.

Tidak hanya itu, penduduk di desa tidak padat. Biasanya jarak antar satu rumah dengan rumah lainnya berjauhan dan memiliki rumah sederhana, asri, serta bersih.

Bahkan ada beberapa rumah desa yang masih mempertahankan rumah dengan konsep tradisionalnya warisan leluhur.

Karena kondisi ini pula, banyak dari masyarakatnya yang mempunyai lahan pribadi maupun lahan desa. Karena sebagian besarnya adalah lahan dibandingkan dengan rumah atau bangunan.

Selain itu, sarana dan prasarana seperti transportasi sangat jarang ada di desa. Dikarenakan kebutuhan masyarakat yang “serba ada” sehingga kebutuhan untuk bepergian sangat minim.

Jika ada alat transportasi di suatu desa biasanya harganya mahal dan mereka masih menggunakan transportasi tradisional seperti sepeda. Tetapi, ada pula beberapa desa yang sudah menggunakan sepeda motor.

b)    Kondisi Masyarakat

Secara geografis seperti yang telah diulas di atas, jarak rumah antar tetangga yang jauh tidak menyurutkan mereka untuk bersosialiasasi.

Nyatanya, masyarakat desa dikenal dengan keakraban dan kedekatan emosional yang cukup kuat.Sehingga kegiatan gotong royong pun sering terlaksana.

Dalam hal ini pula masyarakat desa yang masih memegang kepercayaan kepada para pemangku adat baik dari seseorang yang ahli agama, budaya, yang orang tua yang paling sepuh di desa tersebut. Rasa hormat dan kesetiaan yang tinggi masih dimiliki oleh masyarakat desa.

Gotong royong ini mereka lakukan di beberapa sektor seperti pembangunan ibadah, membersihkan perkarangan pedesaan, membangun jalan desa, dan lain sebagainya.

Kondisi masyarakat lainnya yang mencolok adalah dari tingkat Pendidikan yang mereka emban. Karena sangat dan masih jarang masyarakat desa yang bersekolah mencapai gelar tinggi.

c)     Ekonomi

Sistem Ekonomi di desa dapat dikatakan sangat lamban dalam membangun dan menggali potensi yang ada.

Kehidupan yang monoton yang dilakukan membuat masyarakatnya lamban untuk berkembang.

Hal ini terjadi pada penduduk desa yang hidup di desa terpencil sehingga sangat sulit untuk dijangkau dalam hal apapun.

Padahal potensi alam yang begitu besar sangat berpeluang untuk memajukan pereknomian di desa. Hasil dari sumber daya alam yang ada apabila memiliki target pasar yang jelas, maka bisa mendatangkan keuntungan yang cukup berlimpah.

Walaupun begitu tetap masih ada desa yang sudah bisa menjual hasil panennya ke kota-kota, hanya saja belum semua desa bisa melakukan hal ini.

Mereka pun memanfaatkan sektor lain untuk bisa meningkatkan perekonomian, yaitu dari keragaman budaya yang dimiliki oleh mereka.

d)    Iklim dan Cuaca

Seperti yang diketahui bersama, kondisi udara, air, tanah di desa -desa masih masih sangat bagus sehingga terbebas dari polusi yang bisa mempengaruhi kesehatan.

Iklim dan cuaca ini pula yang menentukan suatu desa untuk bisa bercocok tanam yang pas, sehingga sangat wajar bila hasil pertanian desa satu dengan lainnya berbeda.

Bahkan kondisi iklim dan cuaca sejuk dan masih asri tersebut dimanfaatkan untuk bisa mendatangkan wisatawan dengan merintis desa wisata.

e)     Sosial dan Budaya

Pada umumnya, masyarakat desa juga masih mempertahankan nilai-nilai seni dari para leluhurnya.

Namun dibalik kepercayaan dan memegang adat yang kuat, masyarakat desa pula memiliki nilai kehidupan religius yang tinggi.

Selain itu, di dalam masyarakat desa juga masih menggunakan segala pekerjaan dan fasilitas dengan menggunakan alat-alat tradisional untuk mempertahankan adatnya.

Mereka juga masih mempertahankan Bahasa daerah setempat dan tergolong sulit menerima bahasa-bahasa asing.

Tujuan untuk mempertahankan kebiasaan dan budaya setempat agar bisa melestarikan budaya di desa tersebut sehingga keasrian desa masih terjaga.

Rupanya dari sosial dan budaya yang dilestarikan tersebut bisa mendatangkan wisatawan local maupun mancanegara untuk datang ke desa tersebut.

Mereka melihat desa tersebut memiliki sesuatu yang unik dan belum pernah dilihat sebelumnya.

f)   Lembaga Kemasyarakatan

Dalam desa juga terbentuk lembaga kemasyarakatan yang fungsi untuk menjembatani pemerintah desa dengan masyarakat desa itu sendiri.

Untuk ibu-ibu biasanya diwadahi dengan PKK. Kegiatan yang dilakukan beragam, seperti penyuluhan dan pembinaan kepada masyarakat desa terkait 10 hal pokok yang dijalankan PKK itu sendiri.

Selain itu ada sebuah lembaga untuk anak-anak muda dalam mengasah kreatifitas dan menunjang pembelajaran karena tidak semua anak-anak pada desa dapat bersekolah.

Anak-anak muda pun biasanya tergabung dalam sebuah lembaga karang taruna yang memfasilitasi mereka untuk berkreasi dan menuangkan ide-ide cemerlangnya demi kemajuan desa itu sendiri.

Lembaga kemsyarakatan di desa memang belum berjalan dengan baik ada banyak faktor yang membuat hal tersebut terjadi, bisa dari fasilitas yang belum memadai dan juga minimnya pengetahuan tentang hal tersebut.

Terlepas dari itu banyak desa yang terkenal dan mempunyai prestasi atas kegiatan dari lembaga kemasyarakatan yang berfungsi untuk lebih menguatkan kekeluargaan.

g)    Mata Pencarian

Karena di desa memiliki sumber daya alam yang memadai, maka mata pencarian yang banyak dilakukan masyarakat desa adalah petani jika wilayah desa tersebut dekat dengan pengunungan.

Tentunya, jika desa tersebut dekat dengan pantai, maka sebagian besar masyarakatnya bermata pencarian sebagai nelayan.

Walaupun hanya sedikit mata pencarian yang bisa dipilih, hal tersebut tidak membuat masyarakatnya sulit mencari penghasilan.
Tidak dipungkiri pula, ada beberapa masyarakat desa yang memilih menempuh pendidikan yang tinggi untuk menjadi guru di sekolah desa tersebut atau memilih untuk merantau ke kota demi mendapatkan pekerjaan lain yang diinginkannya.

Di desa pun ada profesi bidan atau paraji istilah tradisionalnya. Mereka bertugas untuk membantu proses persalinan ibu hamil di desa.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu profesi tersebut sudah mulai jarang karena melihat system yang digunakan untuk melahirkan bisa membahayakn ibu dan anaknya.

Maka dari itu, pemerintah kota dan juga pemerintah desa membuat Puskesmas dan mengirimkan tim medis untuk membantu masyarakat desa.

h)    Infrastruktrur

Seperti yang diketahui bersama, infrastruktur yang ada di desa masih bersifat tradisional belum semewah atau secanggih yang ada di kota.

Hal ini juga didasari dengan adat istiadat setempat,salah satunya tentang pembangunan rumah atau gedung yang tidak boleh dibangun melebihi pohon.

Ciri khas lain ada pada bentuk rumahnya serta bahan-bahan yang digunakan sehingga menambah kearifan local budaya Indonesia di desa tersebut.

Dalam hal ini adalah bentuk bangunan yang ada di desa. Hal-hal yang menjadi ciri khas gaya bangunan yang umum terdapat dalam desa.

Masyarakat desa juga mempunyai tujuan dan target yang baik ketika membangun rumah dengan memaksimalkan lahan yang ada.

Misalnya, di bagian rumah terdapat tempat-tempat untuk bisa dijadikan sebagai lahan bercocok tanam, beternak, dan untuk memproduksi hal lainnya.

i)      Potensi Alam

Potensi alam di desa memang cukup banyak dan berlimpah, terdiri dari hutan-hutan dan sumber daya alam lainnya.

Potensi alam yang ada tersebut bisa dijadikan sebagai tempat wisata yang tentu saja bisa memajukan perekonomian desa tersebut.

Lahan-lahan yang digunakan juga dapat menjadi ladang kehidupan serta menumbuhkan mata pencaharian untuk sekitar.

Tidak hanya pertanian, tetapi bisa pula dari sektor perternakan seperti, ayam, bebek, sapi, kambing, domba dan hewan ternak lainnya.

Jika masyarakat desa yang tinggal dipesisir pantai bisa menambahkan sumber daya alam dari laut yang tentunya banyak dicari pula oleh masyarakat kota.

Dengan memanfaatkan dan memelihara potensi alam tersebut, bisa terbentuk desa yang maju dari sumber daya alam maupun wisatanya.

j)   Sejarah

Di desa sangat kental dengan adat istiadat yang ada. sehingga mereka tidak akan pernah melupakan sejarahnya.

Mereka pasti tahu akan sejarah berdirinya desa atau terbentuknya menjadi sebuah desa yang ditemukan oleh siapa serta bagaimaan awal mula ketika terbentuknya struktur resmi pada suatu desa sehingga bisa menghargai hal tersebut.

Dalam sejarahnya pun telah mencatat tentang mitos, adat, atau budaya mengenai sebuah desa sehingga mereka akan patuh dan menjaga kelestarian tersebut.

Dari sejarah ini pula, munculah tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh untuk kemajuan desa itu sendiri sehingga tak heran bila di desa terdapat sebuah upacara-upacara atau kebiasaan yang berkaitan dengan tokoh-tokoh sejarah tersebut.

3.   Ciri-ciri Masyarakat Perdesaan

Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mebngenal ciri-ciri sebagai berikut :

a)Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.

b)    Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.

c) Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme).

d) Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).

e) Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar.

 

C.   Macam-macam Pekerjaan Gotong-Royong

Ada beberapa pekerjaan gotong- royonh yaitu :

a.     kerja bakti dalam memberdohkan lingkungan pedesaan

b.     gotong-royong memperbaiki jembatan atau jalan raya

c.      gotong royong dalam membuat rumah

d.     gotong royong apabila tetangga ada yang hajjatan.

4.   Sifat Dan Hakikat Masyarakat Pedesaan

Masyarakat pedesaan mempunyai sifat yang kaku tapi sangatlah ramah. Biasanya adat dan kepercayaan masyarakat sekitar yang membuat masyarakat pedesaan masih kaku, tetapi asalkan tidak melanggar hukum adat dan kepercayaan maka masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang ramah.
Pada hakikatnya masyarakat pedesaan adalah masyarakat pendukung seperti sebagai petani yang menyiapkan bahan pangan, sebagai PRT atau pekerjaan yang biasanya hanya bersifat pendukung tapi terlepas dari itu masyarakat pedesaan banyak juga yang sudah berpikir maju dan keluar dari hakikat itu.

5.     Macam-macam Gejala Masyarakat Pedesaan

Masyarakat pedesaan mengenal berbagai macam gejala sosial, khussunya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa di dalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan-ketegangan social.  Gejala- gejala social itu adalah :

a.     Konflik ( Pertengkaran )

Pertengkaran-Pertengkaran yang terjadi biasanya berkisar pada masalah sehari-hari rumah tangga dan sering menjalar ke luar ruamah tangga

b.     Kontraversi ( Pertentangan )

Pertentangan ini bisa disebabkan oleh peruibahan konsep-konsep kebudayaan (adat-istiadat), psikologi atau dalam hubungannya dengan guna-guna ( black magic). Para ahli hukum adat biasanya meninjau masalah kontraversi ini dari sudut kebiasaan masyarakat.

c.      Kompetisi ( Persiapan )

Masyarakat pedesaan adalah manusia pada biasanya yang antara lain mempunyai saingan dengan manifestasi sebagai sifat ini. Oleh karena itu maka wujud persaingan itu bisa positif dan bisa negative.

 

6.   Sistem Budaya Petani di Indonesia 

Adapun beberapa sistem pentani di indonesia yaitu :

·        Mereka beranggapan bahwa orang bekerja itu untuk hidup

·        Mereka menganggap alam itu tidak menakutkan jika terjadi bencana

·        Dalam menghadapi alam mereka cukup bekerja sama

 

7.     Unsur-Unsur Desa

Bebrapa Unsur yang terdapat pada desa yaitu :

a.     Daerah, dalam arti tanah-tanah dalam hal geografis.

b.     Penduduk, adalah hal yang meliputi jumlah pertambahan, kepadatan, persebaran, dan mata pencaharian penduduk desa setempat.

c.     Tata Kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan antar warga desa.

ketiga unsur ini tidak lepas antar satu sama lain, artinya tidak berdiri sendiri melainkan merupakan satu kesatuan.

8.     Fungsi Desa

fungsi desa adalah:

a.     desa yang merupakan hinterland atau daerah dukung berfungsi sebagai suatu daerah pemberian bahan makanan pokok.

b.     desa ditinjau dari sudut pemberian ekonomi berfungsi sebagai lumbung bahan mentah dan tenaga kerja yang tidak kecil artinya.

c.     desa dari segi kegiatan kerja desa dapat merupakan desa agraris, desa manufaktur, desa industri, desa nelayan, dll

 

E.    Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan

Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community). Menurut Soekanto (1994), per-bedaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana, karena dalam masyarakat modern, betapa pun kecilnya suatu desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan, pada hakekatnya bersifat gradual.

Kita dapat membedakan antara masya-rakat desa dan masyarakat kota yang masing-masing punya karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat berbeda, bahkan kadang-kadang dikatakan “berlawanan” pula. Perbedaan ciri antara kedua sistem tersebut dapat diungkapkan secara singkat menurut Poplin (1972) sebagai berikut:
Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih erat dan lebih mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga masyarakat pedesaan lainnya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan (Soekanto, 1994). Selanjutnya Pudjiwati (1985), menjelaskan ciri-ciri relasi sosial yang ada di desa itu, adalah pertama-tama, hubungan kekerabatan.

Sistem kekerabatan dan kelompok kekerabatan masih memegang peranan penting. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian, walaupun terlihat adanya tukang kayu, tukang genteng dan bata, tukang membuat gula, akan tetapi inti pekerjaan penduduk adalah pertanian. Pekerjaan-pekerjaan di samping pertanian, hanya merupakan pekerjaan sambilan saja.

Golongan orang-orang tua pada masyarakat pedesaan umumnya memegang peranan penting. Orang akan selalu meminta nasihat kepada mereka apabila ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Nimpoeno (1992) menyatakan bahwa di daerah pedesaan kekuasaan-kekuasaan pada umumnya terpusat pada individu seorang kiyai, ajengan, lurah dan sebagainya.

Ada beberapa ciri yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk untuk membedakan antara desa dan kota. Dengan melihat perbedaan perbedaan yang ada mudah mudahan akan dapat mengurangi kesulitan dalam menentukan apakah suatu masyarakat dapat disebut sebagi masyarakat pedeasaan atau masyarakat perkotaan.

Ciri ciri tersebut antara lain :

1.     jumlah dan kepadatan penduduk

2.     lingkungan hidup

3.      mata pencaharian

4.     corak kehidupan sosial

5.     stratifiksi sosial

6.      mobilitas sosial

7.     pola interaksi sosial

8.     solidaritas sosial

9.     kedudukan dalam hierarki sistem administrasi nasional

Mata pencaharian adalah perbedaan paling menonjol antara desa dan kota. Karena:

·        Kegiatan penduduk desa berada di sektor ekonomi primer yaitu bidang agraris.

·        Kota merupakan pusat kegiatan sektor ekonomi sekunder yng meliputi bidang industri, disamping sektor ekonomi tertier yaitu bidang pelayanan jasa.

·        Jadi kegiatan di desa adalah mengolah bahan-bahan mentah, baik bahan-bahan kebutuhan pangan, sandang maupun lain-lain bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Sedangkan kota mengolah bahan-bahan yang berasal dari desa menjadi bahan-bahan setengah jadi atau mengolahnya sehingga berwujud bahan jadi yang dapat segera di konsumsi.

·        Di desa jumlah ataupun jenis barang yang tersedia di pasaran sangat terbatas. Di kota tersedia berbagai macam barang yang jumlahnya pun melimpah.

·        Bidang produksi dan jalur distribusi di perkotaan lebih kompleks bila dibandingkan dengan yang terdapat di perdesaan. Dan corak kehidupan di desa dapat dikatakan masih homogen.

 Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat
https://www.zenius.net/prologmateri/sosiologi/a/720/syaratterbentuknyamasyarakat
http://aurelrizky.blogspot.com/2017/02/pengertian-masyarakat-dan-perkotaan.html
http://nuruzzahwa.blogspot.com/2016/04/rangkuman-lengkap-dan-singkat-tipe-tipe.html
https://ciptadestiara.wordpress.com/category/ciri-ciri-masyarakat-perkotaaan/
https://www.google.com/search?client=firefox-b-d&q=hubungan+desa+dan+kota
https://strafaelyudistira.wordpress.com/2012/12/02/masyarakat-perkotaan-aspek-aspek-positif-dan-negatif/
https://mengatur.wordpress.com/2018/03/11/definisi-dan-unsur-unsur-perkotaan/
https://id.wikipedia.org/wiki/Desa
https://www.folderdesa.com/10-ciri-ciri-desa-apakah-daerahmu-masih-tergolong-pedesaan-atau-perkotaan/
https://mello.id/ciri-ciri-masyarakat-pedesaan/
https://ciptadestiara.wordpress.com/category/macam-macam-pekerjaan-gotong-royong-menjelaskan-sifat-dan-hakikat-masyarakat-pedesaan-menyebutkan-macam-macam-gejala-masyarakat-pedesaan-menjelaskan-sistem-budaya-petani-indonesia-menyebutkan/

 

Komentar

Postingan Populer